Sabtu, 04 Juni 2011

Sejumlah Wajah Fatrah Abal

Dari kiri Arnanis, Fatchurrahman, Pitoyo Budi Setiawan, Artatik (Foto tahun 1980-an)

Fatrah Abal di ruang kerjanya

Sedang menulis

Pitoyo Budi Setiawan (kiri) dan Farrah Abal (kanan) Tahun 2003

Saat menjadi perokok berat

Fatrah Abal (2000)

Fatrah Abal (1980)

Fatrah Abal 2011

Tidak Ada "Puputan" di Bayu


Oleh: Fatrah Abal

Dalam buku “Sekilas PERANG PUPUTAN BAYU” Sebagai Tonggak Sejarah Hari Jadi Banyuwangi Tanggal 18 Desember 1771. Diterbitkan oleh: PEMERINTAH KABUPATEN BANYUWANGI. Disusun oleh Hasan Ali, pada halaman 1 PENGANTAR: (Bahasa Using Puput=habis; puputan=habis-habisan; Perang Puputan Bayu=Perang habis-habisan di Bayu).

Pendapat yang keliru atau salah tersebut perlu diluruskan. Dalam bahasa Banyuwangi. Puput= otog (wis notog). Dalam bausastra Jawi, yang disusun oleh W.J.S. Poerwadarminto di Tokyo 24 Pebruari 1937, h. 503, kata puput, artinya antara lain; wis tekan ing wungkasan, pantog ing; Di puput-ake=diterusake nganti tekan wungkasan. Baik dalam bahasa Banyuwangen, maupun dalam bahasa Jawa, kata puput mempunyai arti yang sama, yaitu sudah sampai pada batas akhir.

Sebagai contoh, mereka yang main layang-layang bila benangnya tidak dapat diulur lagi, sehingga layang-layangnya tidak bisa ditinggikan, hal ini dikatakan puput (wis puput), karena benangnya sudah sampai pada batas akhir. Bila kemudian layang-layangnya diturunkan, benang maupun layang-layangnya masih utuh, sedikitpun tidak ada yang berkurang, lalu apanya yang disebut habis? Apalagi sirna atau musnah!

Apabila kemudian dipaksanakan, kata puput diberi akhiran “an”, sehingga menjadi puputan, kemudian diartikan sendiri bermakna “habis-habisan”, jelas yang demikian sama sekali tidak benar dan pemerkosaan istilah yang demikian kata wong Banyuwangi disebut “ngawag” (mengada-ada).

Sejak zaman Hindia Belanda, zaman pendudukan Jepang, zaman kemerdekaan, hingga zaman Orde Lama. Saya tidak pernah mendengar bahwa peristiwa Perang Bayu 1771-1772 disebut sebagai perang puputan. Baru pada zaman Orde Baru pada tahun 1970-an, istilah Perang Puputan Bayu itu muncul. Menurut keterangan beberapa kawan seperti Mas Soepranoto dan Hasan Ali, istilah itu muncul atas usul salah seorang anggota tim sejarah, sewaktu menyusun buku “Selayang Pandang Blambangan” pada zaman Pemerintahan Bupati Djoko Supa’at Slamet pada tahun 1974-1975.

Mengenai istilah puputan memang ada, yaitu menyangkut kode budaya pada masyarakat Bali. Pada zaman dahulu setiap peperangan yang ada di Bali, selalu ada yang melakukan puputan. Di daerah Blambangan sebelah timur pernah terjadi peristiwa puputan yaitu di Ulu Pangpang (Lo Pangpang), dilakukan oleh Gusti Ketut Ngurah Kabakaba bersama sisa pengikutnya serta para istri dan anak-anaknya. Hal tersebut bisa dituturkan sebagai berikut:

Puputan di Lo Pangpang
           
Daerah Kabupaten Banyuwangi yang ada dewasa ini pada zaman dahulu dikenal dengan Nagari Manik Lingga, kemudian disebut Blambangan atau Blambangan sebelah timur. Daerah ini sering menjadi rebutan, sehingga kerajaan ini selalu berada di bawah atau menjadi vasal dari kerajaan lainnya (Ketut Mirse).

Setelah Raja Mengwi memutuskan membunuh Pangeran Danuningrat di pesisir Seseh akibat pembangkangannya, antara lain: Danuningrat berusaha untuk melepaskan diri dari Mengwi, untuk itu ia mengganti kedudukan Wong Agung Wilis (adik tirinya, ibu dari Bali) sebagai Patih (yang dipandang terlalu berpihak pada Mengwi) dengan Mas Sutajiwa putranya sendiri; Menghukum mati Ranggasetata agul-agul Blambangan yang dianggap mengadu domba rakyat yang dalam Babad dilambangkan adu Jengkerik dengan Mas Sutajiwa; Di samping itu Danuningrat mengadakan kerjasama dengan Kompeni; dan lain semacamnya, maka Raja Mengwi mengangkat I Gusti Ngurah Kabakaba dan Gusti Kutabedah sebagai penguasa Blambangan.

Di bawah pemerintahan dua penguasa dari Bali tersebut rakyat Blambangan hidup sengsara dan sangat menderita karena diperlakukan dengan kejam serta tidak adil. Mengenai hal tersebut, dalam Babad Blambangan Macapat oleh Mas Purwasastra di Probolinggo, tahun 1773-1774, pada Pupuh 14 Pangkur, tentang keluhan rakyat Blambangan dipaparkan sebagai berikut:

Bait 14: Pemerintahannya amat rusuh dan rusak. Setiap bulan pajak dipungut, setiap hari perampasan dilakukan, rakyat harus tunduk.

Bait 15: Suara orang Blambangan: Kapankah Wong Agung Wilis menolong? Jika terlambat negara Blambangan tak tertolong. Kapan ada yang sanggup melawan Gusti Kuta-bedah? Aku bernadar akan mengabdi.

Bait 16: Asalkan Blambangan sejahtera, meski diperintah oleh Kompeni sekalipun, asal jujur hatinya dan tidak merampas (harta  benda), serta pembesar-pembesarnya tidak menganggu istri-istri rakyat, yang hanya memanaskan  hati saja.

Bait 22: Mas Anom mengucap, ….. Mudah-mudahan janganlah ada anak-cucu yang menghambakan diri kepada (orang) Bali. Aku heran, mengapa mereka gemar membujuk rayu istri orang (Babad Blambangan, Daru Soeprapto, Universitas Gajah Mada Yogyakarta, 1984 h. 993-994).
           
Mendengar dari telik sandi bahwa para penguasa Blambangan I Gusti Ngurah Kabakaba dan Gusti Kutabedah melakukan hubungan dagang dengan para saudagar Inggris, maka Kompeni (VOC) kebakaran jenggot. Kompeni (VOC) sangat khawatir pengaruh Inggris semakin kuat di Blambangan yang nantinya sangat menganggu dan membahayakan kepentingan Kompeni (VOC), maka tidak ada jalan lain, Blambangan harus diserbu dan dibebaskan dari kekuasaan Mengwi.

Dalam upaya merebut Blambangan, Kompeni (VOC) dibantu oleh Mataram dan Madura tanggal 25 Pebruari 1767 mengerahkan ekspedisinya berkumpul di pelabuhan Kwanyar (Madura). Semua kapal yang ada dikumpulkan untuk  melawan armada Inggris. Jalan-jalan masuk dari Selat Bali diblokir. Penyeberangan ke Panarukan: di Panarukan dibangun benteng; di Probolinggo ditempatkan pasukan yang menetap. Distrik-distrik di bagian utara menyerah. Sebagian dari armada ekspedisi berlayar langsung ke Banyualit dan tiba di Banyualit pada tanggal 23 Ma-ret 1767. Pada tanggal 11 Maret 1767 Kompeni mengarahkan pasukan inti di bawah komandan dari Semarang yaitu Edwyn Blanke dan yang dari Pasuruan yaitu Casper Lodewyk Troponegoro di mana terdapat dua ribu orang Madura, bergerak melalui darat sepanjang pantai (Blambangan Indische Gids II, C. Lekkerkerker 1923, h. 1048-1049).

Kekuatan yang dibawa Kompeni (VOC) menyerbu Blambangan bukan hanya dari Madura, Mataram, dan dari daerah-daerah lain di Pulau Jawa, juga terdapat empat ratus orang Makasar dan dua ratus Kompeni Bugis. Mendapat serbuan yang sedemikian rupa dalam waktu yang tidak lama, Kompeni (VOC) dapat menghancurkan kekuatan Mengwi di Blambangan. Ada dua hal yang membuat kekuatan Mengwi di Blambangan dengan cepat dihancurkan:

1.       Bantuan dari Mengwi (Bali) yang diharapkan tidak kunjung datang. Masalahnya pada waktu itu Kerajaan Mengwi dalam kesulitan karena berselisih atau bermusuhan dengan kerajaan-kerajaan lain yang ada di Bali. Juga karena blokade Kompeni (VOC) yang kuat.
2.       Karena kemudian orang-orang dan laskar Blambangan yang dipimpin oleh Mas Anom dan Mas Weko berbalik menyerang pasukan Bali. Hal itu tidak lain sebagai pelampiasan dendam karena sewaktu pemerintahan Mengwi di Blambangan yang dijalankan oleh I Gusti Ngurah Kabakaba dan Gusti Kutabedah, bertinak sewenang-wenang serta tidak adil pada rakyat Blambangan.

Melihat kenyataan yang demikian, pasukan Bali terdesak sedemikian rupa sehingga banyak yang tewas, Gusti Kutabedah mencoba untuk melarikan diri ke Bali, tetapi I Gusti Ngurah Kabakaba menentang maksud tersebut.

Mengenai puputan di Lo Pangpang, C. Lekkerkerker mengutarakan:

Suatu penyerangan dari orang-orang Bali dan orang-orang Bugis serta orang-orang Mandar terhadap orang-orang Blambangan di bawah pimpinan Mas Anom dam Mas Weka di Loganta, berakhir dengan kekalahan bagi pihak yang menyerang. Kutabedah ditawan dan ditembak mati. Ngurah Kabakaba bersama pengikutnya yang setia, telah bersiap-siap untuk melakukan “puputan” satu-satunya jalan terakhir yang bernilai bagi orang Bali yang terhormat. Mula-mula orang-orang Blambangan masih ragu karena penyerangan Kabakaba yang memba-bibuta (tetapi Kabakaba ketika itu terluka pada pahanya, beliau jatuh dan membunuh para istrinya dan anak-anak-nya). Para selir (istri ampeyan)-nya melarikan diri; Ngurah Kabakaba berikut orang-orang Bali yang masih setia akhirnya menemui ajalnya di dalam “puputan” itu (Blambangan Indische Gids 1923, h. 1049).

Peristiwa tragis tersebut diketengahkan oleh Mas Poerwasastra, dalam babadnya yang ditulis antara lain sebagai berikut:

Dalam keadaan luka parah, sebelum menikam dirinya, Gusti Ngurah Kabakaba menikam kedua istrinya dengan sebilah keris di dadanya. Setelah itu satu persatu menikam ketiga anaknya. Melihat hal tersebut para selirnya melarikan diri (Ibidem h. 1047-1048).

Demikianlah, istilah “puputan” yang merupakan kode budaya masyarakat Bali, semacam kode budaya “harakiri” yaitu bentuk bunuh diri yang seremonial di Jepang, yang dilakukan dengan menyobek perut dengan pedang pendek, dikenal sejak abad ke-3 (Kamus Besar Bahasa Indonesia 1988, h. 297).

Orang Jepang bila melakukan perbuatan yang dipandang sangat memalukan, seperti: gagal melaksanakan tugas, kewajiban dan tanggung jawabnya, akan melakukan “harakiri” sebagai jalan terhormat dan nama baiknya sebagai ksatria.

Demikian juga orang Bali tempo dulu, apabila kalah dalam peperangan, raja atau pimpinan yang bertanggung jawab dari pihak yang kalah, bersama keluarganya serta sisa pengikut setianya, akan melakukan “puputan” sebagai satu-satunya jalan terakhir yang terhormat, daripada menyerah yang dipandang sangat hina. Oleh karena itu, setiap terjadi peperangan di Bali pada masa lalu, selalu disebut perang puputan, masalahnya setiap terjadi peperangan pada masa itu, dari pihak yang kalah selalu ada yang melakukan puputan.

Sehubungan dengan terjadinya perang tanggal 18 Desember 1771 di Bayu, C. Lekkerkerker, dalam Babad Blambangan Indische Gids II 1923, pada halaman 1058-1059, antara lain menulis sebagai berikut:

Tanggal 13 Desember 1771 Reygers bertolak dari Kota Lateng. Tanggal 14 Desember 1771 Reygers menyerang Bayu yang nyatanya sangat kuat pertahanannya. Tanggal 14-20 Desember 1771 Minggu kehancuran bagi pasukan Kompeni; Kompeni bergerak dalam dua kelompok, dari Susukan dan dari Songgon; Tak lama sete-lah itu Reygers terluka berat pada bagian kepala dan kemudian meninggal di Ulu Pangpang; Letnan van Schaar mengambil alih komando; Heinrich juga terluka pada kakinya. Pada hari-hari itulah Rempeg mengalami luka pada kakinya dan kemudian meninggal. Pasukan Kompeni mendirikan suatu benteng perlawanan dan mereka harus menunggu pengiriman peluru (amunisi). Pada tanggal 18 Desember 1771 terjadi penyerangan yang membabibuta dari orang-orang Bayu; van Schaar diserang secara tiba-tiba dan gugur, begitu juga Kornet Tinne: Vaandryg Ustronsky terluka berat. Dari orang-orang berkebangsaan Eropa hanya sedikit yang selamat. Pada umumnya orang-orang Madura bertahan dengan gagah berani dan mereka berhasil menghalau kembali para penyerangnya. Pada tanggal 20 sisa-sisa dari pasukan Kompeni yang menyedihkan keadaannya itu kembali di Kota Lateng di bawah pimpinan seorang Kapten Madura yang bernama Alap-alap, setelah itu masih berdatangan beberapa anggota militer tanpa senjata.

Kesalahan dari kekalahan tangal 18 Desember 1771 itu dibebankan pada van Schaar, yang katanya secara terburu-buru melemparkan senjata-senjatanya dan berusaha melarikan diri, Van Wikkerman membantah keterangan itu, dengan mengemukakan keterangannya bahwa karena hujan para serdadu Eropa menyimpan senjata-senjata mereka, yang mengakibatkan senjata-senjata itu jatuh ke tangan musuh. Ketika mereka melarikan diri banyak dari mereka jatuh ke dalam parit yang lebar, di mana mereka dibunuh. Van Wikkerman juga menerangkan, bahwa mayat van Schaar dimasak oleh musuh yang buas itu dan bahwa mereka memakannya dan bahwa kepalanya dipertontonkan secara berkeliling, sebagai tanda kemenangan (Alih bahasa oleh: Pitoyo Boedhy Setiawan, 1991).

Ternyata perang Bayu yang terjadi pada tanggal 18 De-sember 1771 tidak ada yang melakukan puputan. Yang terjadi justru peristiwa kanibalisme. Setelah Rempeg meninggal, yang memimpin peperangan selanjutnya adalah orang-oarang Bali sampai akhirnya Bayu dapat dihancurkan oleh Kompeni (VOC) pada tanggal 11 Oktober 1772 (Ibidem h. 1059).

Dari tulisan C. Lekkerkerker tersebut, tidak ada kepastian tanggal meninggalnya Rempeg, yang ditulis C. Lekkerkerker: Pada hari-hari itulah (tanggal 14-20 Desember 1771) Rempeg mengalami luka pada kakinya dan kemudian meninggal. Jadi tidak bisa Rempeg dipastikan meninggal pada tanggal 18 Desember 1771.

Perlu juga diketahui, kelaziman pengunaan akhiran “an” dan kata ulang mendapat akhiran “an” dalam bahasa Banyuwangen (Osing), antara lain sebagai berikut:

Entek; entekan; entek-entekan (=habis; acapkali habis; habis-habisan).
Mangan; manganan; mangan-mangan (=makan; acapkali makan; saling memakan).
Rusak; rusakan; rusak-rusakan (=rusak; cepat rusak; sa-ling merusak).

Andaikata benar arti dari kata puput=entek (habis), maka puputan=entekan (acapkali habis atau cepat habis). Dengan demikian, Perang Puputan Bayu=Perang acapkali habis di Bayu (Perang cepat habis di Bayu). Bila yang diucapkan; Perang puput-putan Bayu, artinya; Perang habis-habisan di Bayu: itu bila dipaksakan bahwa, puput=habis.

Banyuwangi, 2003